Adalah keliru menuntut orang lain memotivasi anda. Tak
seorang pun bertanggung jawab atas timbul tenggelamnya motivasi itu di dalam
diri anda, melainkan anda sendiri. Pidato pemimpin yang menggebu-gebu, program
pelatihan yang menggairahkan atau pernyataan visi yang penuh kalimat indah,
semua itu hanya usaha mengetuk pintu motivasi diri anda.
Bila anda tak berkenan membukanya, gedoran sekeras apa pun takkan berguna.
Karena anda bertanggung jawab atas perjalanan karier dan hidup anda, maka
bangunlah, bangunkan diri anda sendiri. Anda pun tak bertanggung jawab pada
naik turunnya motivasi orang lain. Karena anda tak selalu tahu apa harapan
mereka. Motivasi selalu bertalian dengan harapan. Sediakan tempat bagi mereka untuk memenuhi harapan bersama:
antara anda dan mereka. Kemudian bekerjalah bahu-membahu untuk mewujudkannya.
Motivasi selalu muncul dari kegembiraan. Sedangkan kegembiraan ditemukan dalam
kerja bersama.
Bila anda mencari
alasan untuk sebuah kegagalan, anda bisa temukan berjuta-juta dengan mudahnya. Namun, alasan tetaplah alasan, la takkan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Kerapkali. alasan serupa dengan
pengingkaran. Semakin banyak menumpuk alasan, semakin besar pengingkaran pada
diri sendiri. Ini menjauhkan anda dari keberhasilan; sekaligus melemahkan
kekuatan diri sendiri.
Berhentilah mencari suatu alasan untuk menutupi
kegagalan. Mulailah bertindak untuk meraih keberhasilan. Belajarlah dari
penambang yang tekun mencari emas. Ditimbanya berliterliter tanah keruh dari
sungai, la saring lumpur dari pasir, la sisir pasir dari logam. Tak jemu ia lakukan hingga tampaklah butiran emas berkilauan. Begitulah semestinya anda memperlakukan kegagalan. Kegagalan itu seperti pasir keruh yang menyembunyikan emas. Bila anda terus berusaha, tekun mencari perbaikan di sela-sela kerumitan, serta berani menyingkirkan alasan-alasan, maka anda akan menemukan cahaya kesempatan.
Hanya mencari alasan, sama saja dengan membuang pasir dan semua emas yang ada di dalamnya. Jangan biarkan pikiran
anda terfokus pada ejekan yaang justru akan membuat langkah anda berhenti untuk
tetap maju menuju impian, selama anda punya hasrat yang maksimal akan sebuah
tujuan maka seharusnya prinsip yang harus ditanamkan adalah “yang tahu yang
kulakukan adalah diri saya sendiri, aku tak mau peduli dengan apapun kecuali
saran dan masukan yang positif demi tercapainya impian”.
Coba anda lempar
sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang. Berpusat dari tempat jatuhnya
kerikil itu akan tercipta sebuah riak gelombang yang mengalun ke penjuru
telaga. Kini, bisakah anda menghentikan laju riak gelombang itu? Mungkin anda
mencoba dengan memasukkan telapak tangan anda ke dalam air. Atau. menghadangnya dengan ke dua belah kaki anda. Namun yang terjadi adalah semakin banyak anda melakukan sesuatu pada permukaan telaga, semakin banyak riak gelombang baru bermunculan. Satu-satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu
hanyalah dengan membiarkannya berhenti sendiri.
Demikian pula dengan
ketenangan dan pikiran. Semakin keras anda melakukan sesuatu pada pikiran anda.
semakin sulit anda mencapai ketenangan itu. Amati saja. Jangan tolak atau
menghentikan riak pikiran anda. Biarkan pikiran berangsur-angsur tenang.
Ketenangan diri dimulai dari ketenangan pikiran; sedangkan ketenangan pikiran
bermula dari ketenangan bernafas. Dalam nafas yang tenang temukan jiwa yang tenang.
Kita seharusnya hidup
dalam ketegangan, dari waktu ke waktu, serta dari hari ke hari; dengan kata
lain, kita adalah pahlawan dari cerita kita sendiri. Jangan biarkan orang lain
jadi pahlawan untuk cerita hidup anda, karena andalah yang menjalani hidup anda
sendiri dan bukan orang lain. Buatlah diri anda tersenyum lepas penuh
kebahagiaan saat ada dipuncak kesuksesan karena banyak yang akan jadi penonton
dari adegan kisah anda yang menarik.
IKUTI PELATIHAN DAN MOTIVASI MENUJU SUKSES : REGISTER NOW




0 komentar: